Oleh: Ragil Sempronk

Keberadaan Gunung Merapi memang selalu membawa cerita tersendiri bagi siapapun yang pernah melihatnya. Setelah Merapi mengalami erupsi dan membawa duka bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, istilah mistis tak jauh dibicarakan darinya. Sehingga wacana tentang mistisisme Merapi ikut ramai dibicarakan oleh masyarakat, tidak hanya masyarakat Yogyakarta tetapi juga sejumlah masyarakat di negeri ini. Media massa yang kental dengan pemberitaan politik dan korupsi pun, seakan hanyut oleh nuansa mistis yang ditimbulkan oleh Merapi. Tak banyak juga yang menuai kontroversi atau perdebatan mengenai mistisisme itu. Adanya campurtangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dimediasi oleh berbagai pemberitaan, pembicara Merapi seolah tak lengkap jika tidak dibuntuti mistisnya. Jika demikian, bagaimana masa depan mistisime Merapi setelah dilanda duka akibat erupsi?

Penghayatan Tentang Mistisisme
Mistisisme tidaklah diartikan sebagai klenik , praktek perdukunan, dan lain sebagainya. Mistisisme merupakan suatu upaya pendekatan dan penyatuan manusia dengan Tuhannya, melalui berbagai jalan yang diyakini oleh manusia. Mistisisme adalah jalan spiritual untuk mendekat dan menyatu dengan-Nya. Dalam perjalanannya, ia diiringi oleh rasa cinta atau kasih sayang, menghilangkan rasa egoisme, nafsu badaniah, menuju ke alam kesatuan dari alam keberagamaan.
Baik dalam ajaran mistik Islam ataupun mistik Kejawen, puncaknya pasti penghayatan mengenai manunggaling kawula-Gusti, atau, dalam ilmu tasawuf disebut Ittihad, Hulul, atau
Wahdatul Wujud. Meskipun muncul banyak interpretasi mengenai pengertian Manunggaling Kawula-Gusti , tetapi mau tidak mau kita harus mengakui bahwa konsep tersebut merupakan konsep teratas dalam mistisisme.
Untuk mencapai tahapan ini, diajarkan empat langkah untuk mencapai pengalaman kejiwaan yang berupa manunggaling kawula-Gusti.
Keempat langkah tersebut harus ditempuh secara bertahap, tertib, dan urut. Keempat langkah tersebut yaitu: Syariat, Tharekat, Hakikat, dan Makrifat. Syariat merupakan proses pengenalan hukum Gusti. Tharekat merupakan proses pendalaman hukum. Hakikat merupakan proses penguasaan dari apa yang telah dipelajari. Sedangkan Makrifat merupakan puncak dari semuanya, yakni kecintaan secara mendalam mengenai Gusti hingga merasa telah bersatu atau selalu dalam pengawasan Gusti.

Mistisime Merapi, Bukti Keistimewaan Yogyakarta
Membicarakan Merapi selalu erat kaitannya dengan Yogyakarta. Ketika Merapi mengalami erupsi, serentak mata tertuju pada masyarakat Yogyakarta. Ungkapan belasungkawa datang silih berganti dari berbagai penjuru negeri ini. Mereka saling membantu, mendorong masyarakat Yogyakarta untuk bangkit dari bencana dan memulai kembali kehidupan yang lebih baik.
Satu hal yang menarik dari erupsi Merapi adalah bagi sebagian masyarakat Yogyakarta erupsi Merapi bukanlah bencana semata, melainkan sebuah berkah yang tak terhitung nilainya. Jika duka Merapi ini mampu diterima dengan ihlas dan tegar, maka naiklah derajat masyarakat Yogyakarta sebagai mahkluk ciptaan-Nya yang senantiasa bersyukur walau dalam keadaan apapun.
Wikan wengkoning samodra / Kederan wus den ideri / Kinemat kamot hing driya / Rinegan segegem dadi / Dumadya angratoni / Nenggih Kanjeng Ratu Kidul / Ndedel nggayuh nggegana / Umara marak maripih / Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.

“Mengetahui atau mengerti betapa kekuasaan samudera, seluruhnya sudah dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan Raja Mataram”
Lihatlah betapa elok penghayatan mistis masyarakat Yogyakarta sebagaimana tertatah dalam sinom Serat Wedhatama tersebut. Karena itu, di antara tarik ulur RUU Keistimewaan Yogyakarta yang tak kunjung jelas, dengan adanya mistis Merapi ini telah jelas bahwa Yogyakarta—tanpa RUU sekalipun—menyimpan keistimewaan tersendiri. Bahwa duka yang diakibatkan oleh erupsi Merapi telah mampu menyatukan rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan keihlasan dari penjuru negeri ini. Magnet mistisisme Merapi disadari atau tidak telah mengatur hubungan manusia secara horisontal dan secara vertikal. Hubungan secara horisontal disebut dengan
memayu hayuning bawana atau dalam bahasa sederhana berarti “hidup berguna bagi sesama”, sedangkan hubungan secara vertikal dinamakan dengan manunggaling kawula Gusti atau “bersatunya manusia dengan Tuhan”.

Jadi masa depan mistisime Merapi akan lahir dalam keberhasilan masyarakat Yogyakarta dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai makhluk ciptaan Tuhan (titahing Gusti ), berhasil melakukan harmonisasi, juga sinergi antara perilaku masyarakat Yogyakarta dengan kearifan alam semesta, antara jagad alit dengan jagad ageng , antara mikrokosmos dengan makrokosmos.

Artikel ini pernah terbit di Lafinus Newsletter, Edisi Agustus 2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here