Sharing Anton Bayu Samudra 'ASMAT: Lumpur Peradaban'.

Kabupaten Asmat di Papua memiliki pelbagai cerita menarik yang tersembunyi. Bagaimana kehidupan sosial, budaya, serta seni, seolah tak ada habisnya untuk dibahas. Kehidupan masyarakat di Asmat dibingkai lewat foto rasanya menjadi media yang paling cocok.

Anton Bayu Samudra, fotografer asal Yogyakarta membagikan pengalamannya memotret di Kabupaten Asmat. Dalam sesi diskusi bertajuk ‘Asmat: Lumpur Peradaban’ pengalaman unik diceritakannya.

“Asmat itu tempat yang dialiris sungai, di sana mata air dari langit, artinya dari hujan. Suatu keajaiban ya daerah tiap malam selalu hujan, di sana pasti pasang surut,” ujarnya, Rabu (8/7/2020).

Potret kehidupan di Asmat.

Kata lumpur dalam tema diskusi rupanya mengambil situasi di Asmat kala itu (sekitar tahun 1980-an). Di mana tak ada tanah di Asmat, hanya ada lumpur. Hal inilah yang membuat jalanan di Asmat dibangun dengan papan kayu, bukan aspal.

Alat transportasi pun tak seperti di Pulau Jawa di mana masyarakat bisa pergi dengan bebas menggunakan motor atau mobil. Jalanan papan kayu hanya bisa dilalui sepeda dan pejalan kaki saja. Transportasi lain yang dipilih adalah transportasi air menggunakan kapal.

Anton bercerita, bahwa ada rasa kepuasan tersendiri bisa memotret kehidupan di Asmat. Masyarakat sana seolah adalah aktor papan atas yang tahu bagaimana harus berpose di depan kamera.

“Kita nggak perlu ngarahin mereka, mereka sudah berpose sendiri di depan kamera. Kalau mau motret human interest di sana puas banget,” ujarnya.

Potret kehidupan di Asmat.

Kini, ada puluhan distrik di Kabupaten Asmat di mana masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda ditandai lewat ukiran. Ukiran patung dan tulisan seolah menjadi identitas setiap distrik yang ada di Asmat.

Melalui kameranya, Anton mengabadikan berbagai momen kehidupan masyarakat di Asmat. Mulai dari aktivitas di pasar, sosial masyarakat, jual beli di pasar, hingga pendidikan.

Anton bercerita, bahwa Kabupaten Asmat kaya akan hasil laut. Di mana harga jual ikan tergolong murah dari pada ketika membeli di Pulau Jawa. Namun, untuk harga sayur cenderung lebih mahal karena harus didatangkan dari wilayah lain.

“Kalau di sana itu nggak ada tawar menawar, beda ya sama sini,” katanya.

Sebelum mengeluarkan kamera untuk memotret, rupanya ada berbagai kegiatan yang dijalani Anton lebih dulu. Hal ini menjadi langkah krusial untuk mengenal masyarakat di Asmat. Adalah berinteraksi dan bersosialisasi langsung dengan mereka.

Potret kehidupan di Asmat.

“Di sana nggak mungkin dateng nggak mungkin langsung motret, ngobrol dulu, buat rasa nyaman, karena kedekatan itu kita dianggap seperti saudara,” ujarnya.

Keramahan masyarakat di Asmat nyatanya tak kalah dari warga Yogyakarta yang dikenal dengan ramahnya. Anton bercerita, jika ia selalu disapa oleh setiap orang yang bertemu dengannya saat dirinya berjalan. Tak peduli muda ataupun tua, ucapan salam rasanya adalah hal yang wajib terucap.

“Di sana mungkin capek ngucapkan selamat pagi, siang, malam, karena kita disapa terus. Tapi kita harus merespons, harus berinteraksi,” katanya.

Winto, anggota komunitas Asmat Fotografi, bercerita bahwa sudah ada banyak perubahan yang terjadi di Asmats. Papan kayu yang dulunya dibangun untuk akses perjalanan, kini telah diganti dengan jembatan dari beton. Bahkan luas jalan lebih lebar dari sebelumnya.

“Jalan papan sudah sangat berkurang sekali, sudah dibangun jembatan beton, dulunya papan yang tadi dipresentasikan ukurannya 2,5 meter, sekarang jembatan beton ini yang sudah dibangun lebarnya kurang lebih 3,5 meter,” cerita Winto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here